Screenshot_20260830_091645_Gallery

TUBAN, PORTALTUBAN.ID – Setelah membaca pemberitaan tentang RS Jiwa Menur Surabaya yang menangani hampir satu kasus percobaan bunuh diri setiap hari, hati saya tersentuh dan prihatin. Angka ini bukan hanya statistik di atas kertas. Ini adalah gambaran nyata dari jeritan diam generasi muda yang sedang berjuang melawan badai dalam diri mereka.

Sebagai siswa di SMA Taruna Nusantara, kami dilatih untuk punya mental kuat, disiplin tinggi, dan semangat yang tidak mudah menyerah. Tapi, kami juga diajari satu nilai penting yang tidak boleh dilupakan, yaitu “kepedulian sosial dan kepemimpinan yang berempati”.

Dari balik tembok kampus kami di Magelang, saya sadar bahwa mental kuat tidak muncul begitu saja. Mental itu terbentuk dari lingkungan yang mendukung, mau merespons, dan saling menjaga. Fenomena banyaknya gangguan kesehatan mental dan tindakan nekat di kalangan remaja menunjukkan adanya bagian yang hilang dalam sistem pendukung kita. Remaja sering menanggung sendiri kepanikan, tekanan akademik, perundungan, dan krisis identitas.

Hal ini terjadi karena ada stigma bahwa “mengaku lelah mental adalah bentuk kelemahan”. Sebagai sesama pelajar, saya melihat masalah ini harus ditanggapi dengan langkah konkret dan kolaboratif melalui beberapa pendekatan: Pertama, kita harus mengubah stigma tentang kesehatan mental.

Meminta bantuan atau berbicara dengan profesional bukan tanda kelemahan, ini justru menunjukkan keberanian untuk pulih. Lingkungan sekolah dan keluarga harus menjadi tempat yang aman tanpa penghakiman. Kedua, perlu memperkuat sistem peer support atau teman sebaya.

Di SMA Taruna Nusantara, tradisi jiwa korsa dan saling menjaga antar-rekan sangat kuat. Konsep ini bisa diterapkan di sekolah umum lewat pembentukan konselor sebaya. Remaja biasanya lebih terbuka bercerita kepada teman sebayanya sebelum bicara dengan orang dewasa. Ketiga, gunakan teknologi dan media sosial sebagai media pertolongan pertama digital. Remaja sangat dekat dengan dunia digital. Media sosial seharusnya tidak hanya menjadi sumber tekanan.

Media sosial harus diubah menjadi tempat yang bisa menyelamatkan. Pemerintah dan penyedia platform digital perlu bekerja sama untuk menyediakan layanan krisis darurat seperti pop-up helpline 24 jam serta aplikasi konseling anonim yang mudah diakses dan terjangkau untuk pelajar.

Menjadi tangguh itu tidak berarti kita tidak pernah merasa sakit atau jatuh. Pemimpin masa depan yang kuat adalah orang-orang yang bisa menerima dan menyelesaikan tekanan serta saling membantu saat rekan mereka butuh bantuan. Mari kita hentikan anggapan bahwa kesehatan mental adalah masalah kecil.

Setiap anak muda di negeri ini sangat penting untuk masa depan Indonesia. Jangan biarkan ada lagi teman kita yang berjuang sendirian.

Penulis: Sayyidati Kiranayla Putri Heriyadi adalah siswa kelas XI SMA Taruna Magelang.

Pilihan Redaksi

Baca Juga