WhatsApp Image 2026-04-27 at 07.15.40

Penulis: Hikho Wasa

TUBAN, PORTALTUBAN.ID – Film Para Perasuk sudah dirilis sejak 23 April 2026. Salah satu film yang sangat saya nantikan penayangannya. Tentu saja karena saya rasa tidak ada alasan untuk menolak film ini sebab disutradari oleh Wregas Bhanuteja dengan aktor yang cukup meyakinkan.

Memasang Angga Yunanda, Anggun C Sasmi, Maudy Ayunda, Bryan Domani, hingga Chicco Kurniawan sebagai tokoh utama dalam film ini apalagi dengan karakter yang sepenuhnya berbeda dari apa yang sudah kita lihat selama ini dari mereka.

Sejak melihat trailernya, hal pertama yang muncul adalah rasa kaget sebab kita melihat aktor utama yang sudah dianggap memiliki reputasi elegan diubah oleh Wregas menjadi orang kampung yang Ngampung banget. Apalagi banyak meme yang muncul tentang seorang Maudy Ayunda yang mberot atau ndadi dalam hal ini kerasukan.

Namun, bukan Wregas kalau filmnya mudah ditebak atau terlalu mainstream. Film Para Perasuk bukan sekadar Maudy Ayunda yang nyeker atau ndadi, lebih dari itu, banyak hal penting justru disimpan dan memiliki makna mendalam setelah kita menontonnya. Waktu dua jam rasanya tidak terasa lama bahkan selalu menikmati setiap adegan.

Berkisah tentang Bayu (Angga Yunanda) yang berusaha menjadi seorang Perasuk di sanggar Guru Asri (Anggun C Sasmi)—sanggar pusat di Desa Latas—melalui rasa cintanya pada Pesta Sambetan dan masalah penggusuran tanah karena proyek oleh sebuah perusahaan membuatnya ingin tetap mempertahankan Pesta Sambetan di desanya.

Ia kemudian berusaha menjadi Perasuk terpilih dengan memenangkan pemilihan Perasuk baru yang ditentukan langsung oleh juri dan masyarakat atas kemampuannya membuat para Pelamun masuk dalam dunia roh dan membuat mereka merasakan kenikmatan.

Dalam usahanya tersebut ia bertemu dengan Laksmi (Maudy Ayunda), seorang pendatang yang berusaha melepaskan diri dari rasa traumanya. Laksmi kemudian menjadi Pelamun dan membantu Bayu.

Antara mereka kemudian terjalin sebuah hubungan yang saling menguntungkan hingga memunculkan ketertarikan satu sama lain. Konflik kemudian berpusat pada perjuangan Bayu menjadi Perasuk serta mempertahankan desanya melalui Pesta Sambetan yang akhirnya harus membuatnya melalui banyak hal.

Dua puluh roh binatang menjadi sorotan dalam film ini. Melihat nama-nama roh binatang yang dipilih, sedikit ada rasa kaget karena roh binatang yang dipilih dalam film ini cenderung unik dan tidak seperti roh binatang yang merasuki manusia pada umumnya. Roh kutu, roh kerbau, roh lintah, roh ayam, hingga roh semut justru menjadi roh yang diulik oleh Wregas dalam film ini.

Nyatanya Wregas mampu menjadikan roh binatang yang kita anggap lelucon justru menjadi sesuatu yang menarik bahkan menjadi salah satu cara bagi Pelamun untuk menyembuhkan diri, keluar dari kepenatan hidup.

Wregas memberikan pengalaman yang menyenangkan dalam memvisualkan proses seorang Pelamun yang mulai masuk di alam roh dengan segala kenyamanannya. Absurditas yang muncul justru terlihat otentik dan unik serta nyentrik.

Ya, barangkali kata ‘nyentik’ memang sesuatu yang pas untuk menggambarkan film ini secara umum. Sebuah film yang menawarkan realis dan surealis ke dalam satu sajian menarik serta memberikan pengalaman unik kepada penonton. Lokalitas wajah Indonesia juga sangat kental dalam film ini.

Lebih gila lagi, film ini bukan sebatas gimmick menjadikan para bintang besar sebagai orang desa yang terkesan ‘kampungan’—tidak. Film ini bukan menjual diva internasional, Anggun yang berubah menjadi seorang guru Perasuk, bukan bicara soal Angga, Chicco, dan Bryan yang menjadi jamet, bukan pula soal menertawakan seorang lulusan Stanford—Maudy Ayunda yang berkali-kali beradegan absurd sebagai orang yang kerasukan.

Memang tak bisa dielak, seperempat awal di film ada unsur komedi bahkan seringkali ‘menyayangkan’ aktor macam mereka beradegan absurd yang belum pernah dimainkan selama ini. Namun, akting mereka sangat bisa dinikmati. Tidak lagi melihat Bryan Domani dengan logat bule-nya, tak lagi muncul sisi laki-laki tampan kharismatik dari Angga Yunanda, Chicco Kurniawan pun terlihat menyatu dengan karakternya,

kita tidak lagi melihat Anggun sebagai diva internasional, tetapi mewujud Guru Asri yang dihormati oleh masyarakat Desa Latas, dan tak ada lagi sosok cerdas lulusan Oxford dalam diri Maudy Ayunda. Semuanya menyatu dengan nyaman dan indah dalam karakter masing-masing.

Ya, seperti pada filmnya sebelumnya, Wregas selalu memunculkan tema sosial termasuk dalam film ini. Sebuah paradoks yang mampu dibangun oleh Wregas bukan hanya sebatas pemilihan roh. Dalam framing kamera pun ia memunculkan paradoksal itu.

Salah satu adegan antara Bayu yang ngobrol dengan Pawit (Chicco Kurniawan) tentang keinginanya menjadi Perasuk dan membebaskan Desa Latas dari gusuran proyek PT Wanaria, namun dalam dialog itu, framing yang dimunculkan adalah adegan mereka yang bersepeda melewati jalanan yang di sisi jalan terdapat proyek pembangunan tersebut. Sebuah paradoks yang sangat jelas dimunculkan oleh Wregas sekaligus menjadi sorotan realita hidup saat ini.

Selain komedi, semakin ke belakang kita akan disuguhkan dengan berbagai genre termasuk thriller hingga horor meski pada genre utamanya adalah drama yang bicara masalah sosial, masalah kemanusiaan, budaya, dan melawan diri sendiri.

Ada sesuatu yang membuat saya bertepuk tangan kepada Maudy Ayunda saat adegan menuju ending. Saat adegan ini muncul rasanya kegilaan Wregas telah dapat disalurkan pada Maudy sehingga dieksekusi dengan sangat baik dan dari sinilah saya jatuh cinta dengan keaktoran Maudy.

Ia bukan hanya seorang penyanyi, bukan hanya perempuan yang diidentik dengan kepintaran. Ia seorang aktor yang luar biasa. Kemerindingan itu menyeruak saat adegannya muncul. Ekspresi, sorot mata, gesture dan lainnya benar-benar menyatu ditambah dengan music scorring yang begitu serasi. Indah, menawan, liar, dan gila.

Tak hanya itu, sekali lagi film ini bukan hanya soal kearifan lokal tetapi sebuah manifestasi atas budaya setempat yang menyimpan tujuan dan makna mendalam termasuk berpengaruh juga pada karakter utamanya—Bayu yang justru bukan melawan orang lain tetapi harus melawan dirinya sendiri dalam upaya menjadi Perasuk.

Sebagai seorang Perasuk, Bayu harus puasa dan menjalani laku seperti roh yang akan ia bawa untuk diberikan kepada Pelamun. Sebuah bentuk bagaimana manusia juga harus bersahabat dengan alam termasuk binatang.

Tak habis sampai di situ, Wregas membuat budaya atau kearifan lokal benar-benar menjadi kekuatan perlawanan atas kapitalisme. Ya, ada adegan epik di bagian menuju ending tentang perlawanan dan klimaks dengan menyuguhkan pertarungan epik antara warga Desa Latas dengan PT. Wanaria.

Adegan ini yang membuat kita merasa bangga bahwa budaya rupanya dapat menjadi alat perlawanan yang berdampak. Di adegan inilah yang membuat saya tiba-tiba meneteskan air mata.

Hati saya merinding, bangga, sekaligus terharu melihat bagaimana sebuah budaya dapat menjadi alat bagi rakyat untuk melawan bersama saling berpegangan. Tabik kepada Wregas yang telah memberikan metafora sedalam ini melalui film.

Bukan hanya itu, ia juga memunculkan cara melawan bukan dengan kekerasan tetapi dengan kasih sayang. Tampaknya Wregas berpegang pada prinsip Jawa Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti yang artinya segala sifat angkara murka akan hancur dengan kasih sayang.

Sebuah falsafah Jawa yang rupanya dijadikan salah satu komponen dalam film ini khususnya menjadi antithesis dalam konflik utamanya. Dari sini pula kita tahu bahwa budaya bukan soal kebiasaan tetapi alat yang menjadi perlawanan, penyembuhan, sekaligus menemukan diri sejati dengan kasih sayang, bukan kekerasan. 9,5/10 untuk Para Perasuk.

Pilihan Redaksi

Baca Juga